Selamat Datang Di Blog Informasi Desa Muara Panco Barat ............ Di Sini Anda Akan Mendapatkan Dan Melihat Kegiatan-Kegiatan Di Desa Muara Panco Barat

Senin, 12 Maret 2012

Bupati Merangin Melantik Kepala Desa Muara Panco Barat

Bupati Merangin H. Nalim, SH. MM, melantik dua kepala desa. Kepala desa yang dilantik masing-masing Jamatul Muslimin Kades Muara Panco Barat Kecamatan Renah Pembarap dan Zuhdi Kepala Desa Tiangko yang bertempat di Halama Kantor Camat Sungai Manau.
Kedua kades tersebut telah resmi menjalankan tugasnya sebagai kepala desa didaerah tersebut. Yang telah dilakukan proses pemilihan beberapa bulan yang lalu.

Mengawali sambutannya, Nalim menyampaikan ungkapan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah mendukung dan berperan aktif dalam pencapaian piala Adipura, penghargaan tertinggi Indonesia di bidang kebersihan dan lingkungan hidup.
Ia menambahkan jika terpilihnya kedua kepala desa tersebut merupakan amanah oleh rakyat dan harus dijaga dan dilaksanakan sebaik mungkin dengan bekerja sepenuh hati dan ikhlas dalam memimpin dan melayani masyarakat," ujar Nalim.
Setelah dilantik kedua kepala desa tersebut tak ada lagi istilah pendukung dan bukan pendukung. Kesemuanya harus dirangkul menjadi satu untuk membesarkan daerahnya.
Selain itu, Nalim juga mengingatkan kepada para kepala desa ini untuk ikut berperan aktif dalam menyukseskan dukungannya untuk kepempinan kedepan dalam pencapaian Visi dan Misi Kabupaten Merangin menuju merangin makmur.
Pelantikan para Kades ini juga dihadiri oleh beberapa anggota DPRD Kabupaten Merangin, Kepala SKPD di lingkup pemerintah Kabupaten Merangin, dan para Tokoh Masyarakat di kecamatan Sungai Manau dan Renah Pembarap.

Kamis, 01 Desember 2011

Semarak Tahun Baru 1433 Hijriah di Jambi

Citizen6: Liputan6 Aktual Tajam Terpercaya

Citizen6, Merangin: Momentum tahun baru Islam 1 Muharam 1433 Hijriah, dimanfaatkan dengan berbagai kegiatan oleh Masyarakat Muara Panco, Renah Pembarap, Merangin. Kegiatan yang dipusatkan di Masjid Agung Baitussalam, Muara Panco berlangsung semarak. Kegiatan yang dilaksanakan yang di pelopori oleh karang taruna dan remaja Masjid Muara Panco Barat dan Muara Panco Timur sebagai kegiatan rutinitas tahunan dalam program karang taruna. Masyarakat dan jama’ah yang hadir pada kegiatan ini berasal dari berbagai desa dalam tiga kecamatan yakni Kecamatan Sungai Manau, Pangkala Jambu dan Renah Pembarap termasuk remaja dalam Desa Muara Panco, dan para santri dari berbagai pondok pesantren yang ada di dalam kecamatan Renah Pembarap. Selengkapnya

Jumat, 02 September 2011

Lomba Bedug Sahur Dan Takbir Semarakkan Lebaran di Muara Panco

Kegiatan takbiran usai Ramadan di berbagai daerah sebagaimana kita saksikan berlangsung semarak. Tak terkecuali dengan kegiatan takbiran yang diadakan Muara Panco Barat, Kecamatan Renah Pembarap Kecamatan Renah Pembarap. Awalnya kegiatan takbiran telah dipersiapkan pada Senin malam. Setelah keputusan pemerintah cq Kementerian Agama diumumkan, kegiatan takbiran dibatalkan dan diganti pada Selasa malam

Usai salat Maghrib, di seluruh masjid-masjid dan Mushalla di Desa Muara Panco mengumandangkan takbir. Begitu juga acara takbiran keliling yang dilaksanakan oleh desa-desa tetangga yang melintasi di jalan raya desa Muara Panco membuat malam hari raya Idul Fitri semakin semarak.

Remaja Masjid dan Karang Taruna Muara Panco menggelar lomba bedug sahur dan takbir hari raya Idul Fitri 1432 H yang dilaksanakan Selasa malam (30/08/2011)bertempat di halaman Masjid Agung Baitussalam Muara Panco.
Ketua Remaja Masjid Baitussalam Halib Mawardi di Muara Panco mengatakan, lomba takbir dan beduk Sahur yang diselenggarakan oleh remaja masjid dan Karang Taruna serta pengurus masjid untuk menyemarakan malam hari raya Idul Fitri 1432 H.
Sementara itu Kepala Desa Muara Panco Timur A. Muttaki dalam Sambutannya mengatakan, kegiatan yang dilaksakan ini agar selalu ada peningkatannya setiap tahunnya, karena kegiatan yang kita laksanakan merupakan kegitan positif untuk menghindari kegiatan takbir keliling yang selalu menuai masalah setiap tahunnya seperti kecalakan dan bentrok antar pemuda desa lain.

Rabu, 17 Agustus 2011

Masyarakat Muara Panco Peringati Nuzulul Qur’an






Menyelenggarakan peringatan Nuzulul Qur’an sebagai momen yang tepat untuk mengajak masyarakat kembali kepada al-Qur’an sebagai pedoman hidup, pada tahun ini ini masyarakat muara panco kembali memperingati malam nuzulul Qur’an yang Kegiatan ini di pelopori Remaja Masjid di Masjid Baitussalam Desa Muara Panco Barat dengan tema “Dengan Nuzulul Qur’an Kita Tingkatkan Minat Membaca Al Qur’an Guna Memantapkan Keimanan dan Ketaqwaan Menuju Masyarakat Yang Bermartabat”.

Acara dihadiri oleh Kepala Desa Muara Panco Barat dan timur, perangkat Desa, Ketua BPD dan anggota dan Masyarakat. Seluruh masyarakat yang hadir dengan penuh antusias menyimak ceramah hikmah Nuzulul Qur’an yang disampaikan oleh Sdr. Drs. A. Kadir. Dalam urainnya, menyampaikan bahwa Al Qur’an merupakan pegangan hidup yang diwahyukan Allah kepada umat manusia dengan perantaraan Nabi Muhammad SAW. Sebagai petunjuk bagi umat manusia, kitab suci ini membahas berbagai masalah dan aspek kehidupan termasuk ilmu pengetahuan, akhlak, sejarah, tatanan masyarakat, keimanan dan kehidupan akhirat, ujarnya. Al-Qur’an

Sabtu, 06 Agustus 2011

Semarak Safari Ramadhan di Desa Muara Panco Barat





Desa Muara Panco Barat kembali menyemarakkan bulan Suci Ramadhan tahun ini dengan menggelar Safari Ramadhan yang melibatkan seluruh perangkat Desa, anggota BPD dan Masyarakat.

Kegiatan Safari Ramadhan merupakan program pemerintahan Desa yang digelar oleh Desa Muara Panco Barat Dan Desa Muara Panco Timur. “Momentum bulan suci ramadhan dimanfaatkan oleh Desa Muara Panco Barat dan Tmur untuk meniningkatkan silahturahmi antara masyarakat, perangkat desa dua desa dengan melakukan kunjungan ke Dusun-dusun dalam Desa Muara Panco Barat dan Muara Panco Timur,” ujar Ketua Remaja Masjid Halip Mawardi, di Muara Panco.'”Pada Safari Ramadhan tahun ini, kami akan mengunjungi mushalla dan surau-surau dalam dua Desa ini, ,” katanya.Semua Mushalla yang berada dalam dua desa ini menjadi sasaran kunjungan Safari Ramadhan Desa Muara Panco kali ini.( Pengelola)

Selasa, 02 Agustus 2011

Babantai Kerbau, Tradisi Masyarakat Muara Panco Meyambut Bulan Suci Ramdahan

KabarIndonesia - Babantai, merupakan tradisi yang sulit ditinggalkan oleh masyarakat kabupaten Merangin khususnya masyarakat Muara Panco Kecamatan Renah Pembarap karena kegiatan sudah menjadi tradisi dan budaya masyarakat sejak dari nenek moyang dulu Selengkapnya

Selasa, 10 Mei 2011

Lomba Kebersihan Tingkat Desa Muara Panco Barat Rampung

KabarIndonesia - Tim juri lomba kebersihan kampong tingkat Desa Muara Panco Barat Kecamatan Renah Pembarap Kabupaten Merangin Jambi, telah melakukan penilaian terhadap lima Dusun dalam Desa Mara Panco Barat. Lima Dusun tersebut bersaing memperebutkan juara pertama, kedua dan ketiga, dengan total hadiah Rp 3 juta yang diberikan dalam bentuk piala dan uang. Pemenangnya sendiri, direncanakan akan diberikan oleh Bapak Bupati merangin mendatang.Selengkapnya

Rabu, 23 Maret 2011

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA MUARA PANCO BARAT MENGELOLA KEBERSIHAN

Kebersihan merupakan salah satu masalah klasik sebuah wilayah hunian, persoalan serius yang dialami hampir semua Desa di Indonesia termasuk Desa Muara Panco Barat. Mengubah prilaku warga untuk hidup bersih memang sulit. Namun, untuk menuju perubahan prilaku, ada banyak cara yang bisa dilakukan. Dengan mengadakan lomba kebersihan Kampung dinilai layak dijadikan strategi dalam upaya meningkatkan kepedulian masyarakat akan kebersihan lingkungan. Walaupun masih ada sebagian masyarakat yang kurang taat dalam mengikuti aturan-aturan kebersihan, terutama dalam membuang sampah. Masyarakat kurang taat dengan waktu dan tempat pembuangan sampah. Hal inilah yang tengah dihadapi Pemerintahan Desa Muara Panco Barat untuk menjadikan Desa-nya menjadi Desa Bersih.

Kendala lain yang juga dihadapi Pemerintahan Desa Muara Pancoi Barat pengelola kebersihan adanya pembuangan sampah oleh masyarakat di sembarang tempat. Disatu sisi perlu dicatat meningkatnya volume sampah di beberapa tempat di sudut Desa, terutamanya lagi di di Got-got depan rumah warga, erat kaitannya dengan jumlah penduduk. Belum lagi sampah-sampah dari alam dan tumbuh-tumbuhan.

Bangkitkan Prilaku Bersih Melalui Lomba Menghadapi kenyataan permasalahan kebersihan lingkungan, terutamanya belum maksimalnya partisipasi peran serta masyarakat dalam ikut mengelola kebersihan lingkungan. Beberapa waktu lalu, Salah satu perangkat Desa, Jammatul Muslimin mengeluarkan ide cerdas dan cemerlang dalam memompa peran serta warga Muara Panco Barat dalam mengelola kebersihan melalui lomba kebersihan lingkungan Kampung. Gagasan lomba kebersihan ini barang tentu memacu semangat masing-masing Kampung dalam hal menjaga kebersihan lingkungan. Tidak semata-mata kebersihan masing-masing lingkungan, namun lomba kebersihan ini juga akan memperindah Desa Muara Panco Barat. Tidak bisa dipungkiri sejak mulai diwacanakannya lomba pertama kalinya ini, masyarakat Desa Muara Panco Barat bergiat diri melakukan aktivitas kebersihan di lingkungan kampong masing-masing.

Lomba kebersihan antar Kampung yang pertama kali dilaksanakan, penilaiannya tidak semata-mata menialai kebersihan sesaat. Sebaliknya lebih menekankan pada perilaku masyarakat untuk hidup bersih. Melihat masih cukup banyaknya warga yang tak mempedulikan kebersihan lingkungan. Misalnya saja kebiasaan membuang sampah sembarangan, dengan memanfaatkan lahan kosong yang ada dilingkungannya. Atau masih ada diantara warga membuang sampah ke dalam saluran got yang ada di depan rumah. Kebiasaan asal buang tersebut, tentu saja akan memunculkan persoalan baru. Seperti sumber penyakit dan bau tidak sedap. Demikian juga dengan kebiasaan membuang sampah di got, yang masih banyak dilakukan masyarakat. Bagi mereka yang berada di hulu mungkin tidak ada masalah. Tapi mereka yang bermukim dihilir yang akan merasakan dampaknya. Padahal jika terjadi musibah, merupakan ancaman bagi banyak orang. Sesungguhnya yang terpenting bagaimana menumbuhkan perilaku hidup bersih dikalangan warga. Jika perilaku hidup bersih sudah menjadi kebiasaan, dapat dipastikan lingkungan akan menjadi bersih.

Menilai sebuah Kampung dari segi kebersihan, tentu akan membawa dampak yang positif, jika dilakukan terus menerus dengan kesadaran warga Kampung. Ada tidak lomba kebersihan, Kampung mestinya tetap bersih, termasuk lingkungannya. Tingkat kebersihan tersebut sangat tergantung dari penduduk Kampung. Jika penduduknya tidak tertib dan taat jadwal dalam membuang sampah, masih berprilaku tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan, maka akan memiliki konsekwensi kurang sadarnya masyarakat tersebut dengan kebersihan. Kebersihan memiliki hubungan langsung dengan tertibnya warga Kampung dalam memenuhi administrasi desa, termasuk dalam memanfaatkan lingkungan untuk lahan mencari penghidupan setiap hari. Bagaimana lingkungan Kampung mau bersih jika warga Kampung masih tidak tertib dan tidak peduli terhadap kebersihan yang berdampak pada kualitas kesehatan masyarakat setempat?

Biasanya pelaksanaan sebuah perlombaan, lebih mengutamakan hadiah yang diperebutkan. Akan tetapi berbeda dengan lomba kebersihan yang dilaksanakan oleh Desa Muara Panco Barat . Sasaran yang ingin dicapai bukan saja bersih pada saat lomba, namun lebih dari itu melalui lomba kebersihan Kampung masyarakat diharapkan termotivasi dan terbiasa melakukan kebersihan dilingkungan Kampungnya masing-masing. Sasarannya lomba bukanya sekadar mencari siapa yang mampu mengelola kebersihan pada saat lomba tapi terpenting bagaimana dengan kegiatan ini bisa mengubah prilaku warga agar hidup bersih. Program kepedulian terhadap kebersihan memang harus dimulai dari hal-hal yang praktis. Peduli lingkungan hendaknya menjadi budaya warga. Lomba semacam ini jangan hanya di Desa Muara Panco Barat saja, namun bagaimana lomba kebersihan ini menjalar ke desa lainnya di Kabupaten Merangin ini, tentunya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Merangin dalam mengelolanya, agar ke depan Kabupaten Merangin tidak lagi dikelilingi masalah kebersihan.
Penulis : Mohd Khalid (Kaur Umum Desa Muara Panco Barat ).

Minggu, 27 Februari 2011

Masyarakat Muara Panco Butuh Bantuan Pihak Pemerintah Dalam Mengatasi Masalah Ribuan pohon Duku Yang Mati Terserang Hama


Buah duku asal Desa Muara Panco Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin, Jambi, merupakan salah komoditi andalan di Propinsi Jambi yang sudah dikenal secara nasional. Bahkan sudah mendapatkan sertifikasi Varietas ungul nasional dari Menteri Pertanian. Duku Muaro Panco punya ciri khas tersendiri. Isinya berwarna bening, berbiji kecil, rasanya sangat manis. Sampai Saat ini hama yang menyerang pohon duku Muara Panco, yang membuat ribuan pohon duku mati.

Hal ini telah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Namun pemerintah belum berusaha maksimal untuk mengatasi permasalahan ini, kalau permasalahan ini tidak diatasi dengan serius dan secepat nya mugkin duku muara panco hanya tinggal nama nya saja.

Kepala Desa Muara Panco Barat , H. Ishak, mengatakan, pohon duku yang terserang hama dalam beberapa tahun ini berkisar 40% dari tanaman duku yang berada dalam Desa Muara Panco Barat dan Muara Panco Timur. Permasalahan hama yang menyerang duku Muara Panco ini sudah beberapa kali diadakan penelitian oleh pihak Kabupaten dan Provinsi Jambi namun hasil nya sampai saat ini hama yang menerang duku masih berlangsung.

Lebih Lanjut Kades mengharapkan kepada Pemerintah untuk secepatnya mengatasi permasalahan ini “ kami butuh bantuan pemerintah untuk mengatasi masalah ini kalau tidak apalah artinya Sertifikat varietas unggul nasional duku Muara Panco dari Menteri Pertanian yang kami pegang, kalau pohon duku nya sudah mati semua”.

Sabtu, 21 Agustus 2010

Safari Ramadhan

Desa Muara Panco Barat, pada bulan Suci Ramadhan tahun ini kembali menggelar Safari Ramadhan melibatkan seluruh perangkat Desa, anggota BPD dan Masyarakat.
Kegiatan Safari Ramadhan merupakan program rutin tahunan yang digelar oleh Desa Muara Panco Barat Dan Desa Muara Panco Timur. “Momentum bulan suci dimanfaatkan oleh Desa Muara Panco Barat dan Tmur untuk bersilahturahmi dengan melakukan kunjungan ke Dusun-dusun dalam Desa Muara Panco Barat dan Muara Panco Timur,” ujar Ketua Karang Taruna Panco Batuah Mohd Khalid, di Muara Panco.
'”Pada Safari Ramadhan tahun ini, kami akan mengunjungi Dusun-dusun dalam dua Desa ini, ,” katanya. Semua Mushalla yang berada dalam dua desa ini menjadi sasaran kunjungan Safari Ramadhan Desa Muara Panco kali ini.
Kepala Desa H. Ishak Mengatakan “ Safari Ramadhan merupakan program Program rutinitas tahunan”. ( Pengelola)

Minggu, 25 April 2010

Selayang Pandang Kabupaten Merangin Jambi

Topografi
Kondisi topografi wilayah Kab. Merangin secara umum terbagi dalam 3 (tiga) bagian, yaitu dataran tinggi, dataran sedang, dan dataran rendah.
Ketinggian berkisar antara 10-2.935 meter di atas permukaan air laut, dengan bentang alam yang rata-rata bergelombang.

Pada dataran rendah terletak pada ketinggian 0-100 m dpl dengan luasan 41,20 % dari luas kabupaten.
Wilayah dataran sedang yang terletak antara 100-500 m dpl seluas 35,79 % dari luas kabupaten, sedangkan dataran tinggi yang terletak lebih dari 500 m dpl seluas 23 % dari luas Kabupaten Merangin.

Berdasarkan kemiringan lereng/wilayah Kabupaten Merangin terbagi dalam 4 (empat) kategori :

  • Kemiringan Lereng 0 – 2% berjumlah 10,15% dari luas Wilayah Kabupaten Merangin. Klasifikasi kemiringan ini sebagian besar Kecamatan Bangko dan Pamenang.
  • Kemiringan Lereng 2 – 15% berjumlah 31 – 61% dari luas Kabupaten Merangin yang sebagian besar Kecamatan Bangko, Pamenang, Tabir dan Sungai Manau.
  • Kemiringan Lereng 15 – 40 % lebih kurang 22,31% dari luas Kabupaten Merangin dengan penyebaran hamparan keseluruh Kabupaten Merangin.
  • Kemiringan Lereng > 40 % merupakan persentase terbesar yaitu berkisar 35,93 % dari luas Kabupaten Merangin, penyebarannya terdapat di Kecamatan Tabir Ulu, Sungai Manau, Muara Siau dan Kecamatan Jangkat.

Secara keseluruhan wilayah Kab. Merangin merupakan dataran rendah (40%) dan dataran tinggi (60%).

Adapun dataran tinggi meliputi Kec. Jangkat, Kec. Ma. Siau, Kec. Sungai Manau, sebagian Kec. Tabir Ulu.
Dataran rendah meliputi Kec. Bangko, Pamenang, Tabir dan sebagian Kec. Tabir Ulu.

Letak Geografis
Kabupaten Merangin Terletak antara 1020-1040 Bujur Timur dan antara 20-30 Lintang Selatan, Luas Kabupaten Merangin 7.679 Km2 yang terdiri dari dataran rendah seluas 4.607 Km2 (60%), dan dataran tinggi seluas 3.072 Km2 (40%) serta letak ketinggian berkisar 10 m – 2.935 m di atas permukaan air laut.

Batas-batas Wilayah Kabupaten Merangin sebagai berikut :
Sebelah Utara dengan Kabupaten Bungo.
Sebelah Timur dengan Kabupaten Sarolangun
Sebelah Barat dengan Kabupaten Kerinci
Sebelah Selatan dengan Kabupaten Rejang Lebong, Prop.Bengkulu

Jarak dari Ibukota Kabupaten ke Ibukota Kecamatan.
- Bangko – Muara Maderas 121 Km
- Bangko – Muara Siau 33 Km

- Bangko – Renah Pembarap..... Km

- Bangko – Sungai Manau 48 Km

- Bangko – Perentak .... Km

- Bangko – Pamenang 22 Km
- Bangko – Rantau Panjang 28 Km
- Bangko – Muara Jernih 44 Km

Sedangkan jarak dari ibukota kabupaten ke ibukota Propinsi Jambi (Kota Jambi) ± 260 km dengan waktu tempuh 3,5 – 4 jam, jarak ini sudah termasuk ke Airport, sedangkan ke pelabuhan samudera Ma. Sabak ± 315 km, dengan waktu tempuh 4,5 – 5 jam.

SEJARAH PROVINSI JAMBI

Dengan berakhirnya masa kesultanan Jambi menyusul gugurnya Sulthan Thaha Saifuddin tanggal 27 April 1904 dan berhasilnya Belanda menguasai wilayah-wilayah Kesultanan Jambi, maka Jambi ditetapkan sebagai Keresidenan dan masuk ke dalam wilayah Nederlandsch Indie. Residen Jambi yang pertama O.L Helfrich yang diangkat berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Belanda No. 20 tanggal 4 Mei 1906 dan pelantikannya dilaksanakan tanggal 2 Juli 1906.
Kekuasan Belanda atas Jambi berlangsung ± 36 tahun karena pada tanggal 9 Maret 1942 terjadi peralihan kekuasaan kepada Pemerintahan Jepang. Dan pada 14 Agustus 1945 Jepang menyerah pada sekutu. Tanggal 17 Agustus 1945 diproklamirkanlah Negara Republik Indonesia. Sumatera disaat Proklamasi tersebut menjadi satu Provinsi yaitu Provinsi Sumatera dan Medan sebagai ibukotanya dan MR. Teuku Muhammad Hasan ditunjuk memegangkan jabatan Gubernurnya.
Pada tanggal 18 April 1946 Komite Nasional Indonesia Sumatera bersidang di Bukittinggi memutuskan Provinsi Sumatera terdiri dari tiga Sub Provinsi yaitu Sub Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan.
Sub Provinsi Sumatera Tengah mencakup keresidenan Sumatra Barat, Riau dan Jambi. Tarik menarik Keresidenan Jambi untuk masuk ke Sumatera Selatan atau Sumatera Tengah ternyata cukup alot dan akhirnya ditetapkan dengan pemungutan suara pada Sidang KNI Sumatera tersebut dan Keresidenan Jambi masuk ke Sumatera Tengah. Sub-sub Provinsi dari Provinsi Sumatera ini kemudian dengan undang-undang nomor 10 tahun 1948 ditetapkan sebagai Provinsi.
Dengan UU.No. 22 tahun 1948 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah keresidenan Jambi saat itu terdiri dari 2 Kabupaten dan 1 Kota Praja Jambi. Kabupaten-kabupaten tersebut adalah Kabupaten Merangin yang mencakup Kewedanaan Muara Tebo, Muaro Bungo, Bangko dan Batanghari terdiri dari kewedanaan Muara Tembesi, Jambi Luar Kota, dan Kuala Tungkal. Masa terus berjalan, banyak pemuka masyarakat yang ingin keresidenan Jambi untuk menjadi bagian Sumatera Selatan dan dibagian lain ingin tetap bahkan ada yang ingin berdiri sendiri. Terlebih dari itu, Kerinci kembali dikehendaki masuk Keresidenan Jambi, karena sejak tanggal 1 Juni 1922 Kerinci yang tadinya bagian dari Kesultanan Jambi dimasukkan ke keresidenan Sumatera Barat tepatnya jadi bagian dari Kabupaten Pesisir Selatan dan Kerinci (PSK)
Tuntutan keresidenan Jambi menjadi daerah Tingkat I Provinsi diangkat dalam Pernyataan Bersama antara Himpunan Pemuda Merangin Batanghari (HP.MERBAHARI) dengan Front Pemuda Jambi (FROPEJA) Tanggal 10 April 1954 yang diserahkan langsung Kepada Bung Hatta Wakil Presiden di Bangko, yang ketika itu berkunjung kesana. Penduduk Jambi saat itu tercatat kurang lebih 500.000 jiwa (tidak termasuk Kerinci)
Keinginan tersebut diwujudkan kembali dalam Kongres Pemuda se-Daerah Jambi 30 April – 3 Mei 1954 dengan mengutus tiga orang delegasi yaitu Rd. Abdullah, AT Hanafiah dan H. Said serta seorang penasehat delegasi yaitu Bapak Syamsu Bahrun menghadap Mendagri Prof. DR.MR Hazairin.
Berbagai kebulatan tekad setelah itu bermunculan baik oleh gabungan parpol, Dewan Pemerintahan Marga, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Merangin, Batanghari. Puncaknya pada kongres rakyat Jambi 14-18 Juni 1955 di gedung bioskop Murni terbentuklah wadah perjuangan Rakyat Jambi bernama Badan Kongres Rakyat Djambi (BKRD) untuk mengupayakan dan memperjuangkan Jambi menjadi Daerah Otonomi Tingkat I Provinsi Jambi.
Pada Kongres Pemuda se-daerah Jambi tanggal 2-5 Januari 1957 mendesak BKRD menyatakan Keresidenan Jambi secara de facto menjadi Provinsi selambat-lambatnya tanggal 9 Januari 1957 .
Sidang Pleno BKRD tanggal 6 Januari 1957 pukul 02.00 dengan resmi menetapkan keresidenan Jambi menjadi Daerah Otonomi Tingkat I Provinsi yang berhubungan langsung dengan pemerintah pusat dan keluar dari Provinsi Sumatera Tengah. Dewan Banteng selaku penguasa pemerintah Provinsi Sumatera Tengah yang telah mengambil alih pemerintahan Provinsi Sumatera Tengah dari Gubernur Ruslan Mulyohardjo pada tanggal 9 Januari 1957 menyetujui keputusan BKRD.
Pada tanggal 8 Februari 1957 Ketua Dewan Banteng Letkol Ahmad Husein melantik Residen Djamin gr. Datuk Bagindo sebagai acting Gubernur dan H. Hanafi sebagai wakil Acting Gubernur Provinsi Djambi, dengan staff 11 orang yaitu Nuhan, Rd. Hasan Amin, M. Adnan Kasim, H.A. Manap, Salim, Syamsu Bahrun, Kms. H.A.Somad. Rd. Suhur, Manan, Imron Nungcik dan Abd Umar yang dikukuhkan dengan SK No. 009/KD/U/L KPTS. tertanggal 8 Februari 1957 dan sekaligus meresmikan berdirinya Provinsi Jambi di halaman rumah Residen Jambi (kini Gubernuran Jambi).
Pada tanggal 9 Agustus 1957 Presiden RI Ir. Soekarno akhirnya menandatangani di Denpasar Bali. UU Darurat No. 19 tahun 1957 tentang Pembentukan Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Jambi. Dengan UU No. 61 tahun 1958 tanggal 25 Juli 1958 UU Darurat No. 19 Tahun 1957 Tentang Pembentukan Daerah Sumatera Tingkat I Sumatera Barat, Djambi dan Riau. (UU tahun 1957 No. 75) sebagai Undang-undang.
Dalam UU No. 61 tahun 1958 disebutkan pada pasal 1 hurup b, bahwa daerah Swatantra Tingkat I Jambi wilayahnya mencakup wilayah daerah Swatantra Tingkat II Batanghari, Merangin, dan Kota Praja Jambi serta Kecamatan-Kecamatan Kerinci Hulu, Tengah dan Hilir.
Kelanjutan UU No. 61 tahun 1958 tersebut pada tanggal 19 Desember 1958 Mendagri Sanoesi Hardjadinata mengangkat dan menetapkan Djamin gr. Datuk Bagindo Residen Jambi sebagai Dienst Doend DD Gubernur (residen yang ditugaskan sebagai Gubernur Provinsi Jambi dengan SK Nomor UP/5/8/4). Pejabat Gubernur pada tanggal 30 Desember 1958 meresmikan berdirinya Provinsi Jambi atas nama Mendagri di Gedung Nasional Jambi (sekarang gedung BKOW). Kendati dejure Provinsi Jambi di tetapkan dengan UU Darurat 1957 dan kemudian UU No. 61 tahun 1958 tetapi dengan pertimbangan sejarah asal-usul pembentukannya oleh masyarakat Jambi melalui BKRD maka tanggal Keputusan BKRD 6 Januari 1957 ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Jambi, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Djambi Nomor. 1 Tahun 1970 tanggal 7 Juni 1970 tentang Hari Lahir Provinsi Djambi.
Adapun nama Residen dan Gubernur Jambi mulai dari masa kolonial sampai dengan sekarang adalah sebagai berikut :
Masa Kolonial, Residen Belanda di Jambi adalah :
1. O.L. Helfrich (1906-1908)
2. A.J.N Engelemberg (1908-1910)
3. Th. A.L. Heyting (1910-1913)
4. AL. Kamerling (1913-1915)
5. H.E.C. Quast (1915 – 1918)
6. H.L.C Petri (1918-1923)
7. C. Poortman (1923-1925)
8. G.J. Van Dongen (1925-1927)
9. H.E.K Ezerman (1927-1928)
10. J.R.F Verschoor Van Niesse (1928-1931)
11. W.S. Teinbuch (1931-1933)
12. Ph. J. Van der Meulen (1933-1936)
13. M.J. Ruyschaver (1936-1940)
14. Reuvers (1940-1942)
Tahun 1942 – 1945 Jepang masuk ke Indonesia termasuk Jambi

Masa Kemerdekaan REPUBLIK INDONESIA

Residen Jambi:
1. Dr. Segaf Yahya (1945)
2. R. Inu Kertapati (1945-1950)
3. Bachsan (1950-1953)
4. Hoesin Puang Limbaro (1953-1954)
5. R. Sudono (1954-1955)
6. Djamin Datuk Bagindo (1954-1957) - Acting Gubernur
- 6 Januari 1957 BKRD menyatakan Keresidenan Jambi menjadi Propinsi
- 8 Februari 1957 peresmian propinsi dan kantor gubernur di kediaman Residen oleh Ketua Dewan Banteng. Pembentukan propinsi diperkuat oleh Keputusan Dewan Menteri tanggal 1 Juli 1957, Undang-Undang Nomor 1 /1957 dan Undang-Undang Darurat Nomor 19/1957 dan mengganti Undang-Undang tersebut dengan Undang-Undang Nomor 61/1958.


Masa PROVINSI JAMBI

Gubernur Jambi:
M. Joesoef Singedekane (1957-1967)
H. Abdul Manap (Pejabat Gubernur 1967-1968)
R.M. Noer Atmadibrata (1968-1974)
Djamaluddin Tambunan, SH (1974-1979)
Edy Sabara (Pejabat Gubernur 1979)
Masjchun Sofwan, SH (1979-1989)
Drs. H. Abdurrahman Sayoeti (Wakil Gubernur)
Drs. H. Abdurrahman Sayoeti (1989-1999)
Musa (Wakil Gubernur)
Drs. Hasip Kalimudin Syam (Wakil Gubernur)
DRS. H. Zulkifli Nurdin, MBA (1999-2005)
Uteng Suryadiatna (Wakil Gubernur)
Drs. Hasip Kalimudin Syam (Wakil Gubernur)
DR.Ir. H. Sudarsono H, SH, MA (Pejabat Gubernur 2005)
10.Drs. H. Zulkifli Nurdin, MBA (2005-2009)
Drs. H. Antony Zeidra Abidin (Wakil Gubernur 2005-2009)


LOGO PROVINSI JAMBI

Pada logo Provinsi Jambi yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 1969 tertera kalimat Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. Kalimat ini melambangkan satu kesatuan kebangsaan, satu kesatuan rakyat dan wilayah Jambi dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia, juga melambangkan kebesaran dari Sepucuk Jambi Sembilan Lurah dari sialang lantak besi sampai durian batakuk Rajo dan Tanjung Jabung.
Secara harfiah, Sepucuk Jambi Sembilan Lurah diambil dari naskah Undang-undang Piagam pencacahan kisah Negeri Jambi yang ditulis Ngebi Sutho Dilago Priyayi Rajo Sari 13589H/1937 M. Pada kitab itu dalam pasal 37 Pucuk undang Delapan, tertulis ”yang bernama Pucuk Jambi itu adalah uluan Jambi, pertama Pulau Umak, disanalah durian di Takuk Rajo sébelah ulu sialang belantak besi antara dengan tanah Minangkabau, maka itulah yang bernama pucuk Jambi. Adapun yang dinamakan sembilan lurah itu anak Batanghari Jambi. Sungainya yang besar sembilan sungai, pertama Tembesi, kedua Merangin, ketiga Batang Asai, keempat Sungai Tabir, kelima Tebo, keenam Bungo, ketujuh Pelepat, kedelapan Masumai, kesembilan Jujuhan, maka itulah yang bernamakan sembilan lurah”
A.Mukti Nasrudin (1989) menyatakan bahwa secara administratif wilayah kerajaan Jambi itu daerah-daerahnya tercakup dalam adagium adat “Pucuk Jambi Sembilan Lurah Batangnyo Alam Barajo“ artinya Pucuk yaitu Ulu, dataran tinggi Sembillan Lurah adalah Sembilan Negeri atau wilayah daerah Batangnyo Alam Barajo yaitu Teras Kerajaan 12 Suku /Bangso.
Secara geografis pengertian Pucuk Jambi dan Sembilan Lurah telah diutarakan. Sedangkan sembilan lurah dalam pengertian wilayah adat diartikan, empat diatas, tiga ditaruh di bawah, dan dua di Bangko Bawah.
Empat diatas meliputi daerah Kerinci yang pemerintahannya diselenggarakan oleh empat Depati yaitu, Depati Rencong Talang yang berpusat di Pulau Sangkau dengan daerah kekuasaannya meliputi tanah sébelah barat dan selatan Danau Kerinci, Depati Muaro Langkap Tanjung Langkap sekian berpusat di Tamiang. Depati Biang Sari dengan daerah kekuasaannya meliputi tanah sébelah tenggara dan Timur Danau Kerinci. Depati Atur Bumi yang berputar yang berpusat di Hiang meliputi tanah sébelah barat laut dan tenggara Danau Kerinci sampai Gunung Kerinci.
Tiga ditaruh dibawah yaitu daerah Bangko Atas meliputi daerah Depati Setio Rajo-Lubuk Gaung, Depati Setio Nyato- Sungai Manau dan Depati Setio Beti Tantan. Sedangkan dua di Bangko Bawah terdiri dari daerah Batin IX (Batin IX ulu dan Batin IX Ilir) dan daerah induk Enam Anak Sepuluh atau disebut sebagai daerah Luhak XVI meliputi daerah-daerah Tiang Pumpung, Dusun Tuo, Sanggerahan, Sungai Tenang, Serampas dan Pemberap.
Adapun adagium ”Batangnyo Alam Barajo” yaitu daerah Teras Kerajaan 12 Suku/Bangso Yaitu :
1. Jebus meliputi Sabak dan Dendang, Simpang, Aur Gading, Tanjung dan Londrang.
2. Pemayung meliputi Teluk Sébelah Ulu, Pudak, Kumpeh dan Berembang
3. Maro Sebo meliputi Sungai Buluh, Pelayang, Sengkati Kecil, Sungai Ruan, Buluh Kasap, Kembang Seri, Rengas Sembilan, Sungai Aur, Teluk Lebar, Sungai Bengkal, Mengupeh, Remaji, Rantau Api, Rambutan Masam dan Kubu Kandang.
4. Petajin meliputi, Betung Bedarah, Penapalan, Sungai Keruh, Teluk Rendah, Dusun Tuo, Peninjauan, Tambun Arang, dan Pemunduran, Kumpeh.
5. Tujuh Koto atau Kembang Paseban, meliputi Teluk Ketapang, Muaro Tambun, Nirah, Sungai Abang, Teluk Kayu Putih, Kuamang dan Tanjung.
6. Awin meliputi Pulau Kayu Aro dan Dusun Tengah.
7. Penagan Negerinya Dusun Kuap
8. Mestong meliputi Tarekan, Lopak Alai, Kota Karang, dan Sarang Burung.
9. Serdadu dengan negerinya Sungai Terap.
10.Kebalen negerinya Terusan
11.Air Hitam meliputi Durian Ijo, Tebing Tinggi, Padang Kelapo,
Sungai Seluang, Pematang Buluh, dan Kejasung.
12.Pinokawan meliputi Dusun Ture, Lopak Aur, Pulau Betung dan
Sungai Duren.
Keseluruhan wilayah Jambi dari sisi Hukum Adat Jambi, batas-batas secara lengkap berbunyi : dari durian ditakuk rajo lepas kesialang belantak besi melayang ke Tanjung Simalidu menepih beringin nan sebatang, Beringin gedang nan sekali dalam, mendaki bukit kelarik nan besibak meniti pematang panjang, menepat ke Singkil Tujuh Balarik ke sepisak pisau hilang mendaki bukit Alam Babi meniti pematang panjang menepat kebukit cindaku laju ke ulu Parit Sembilan menuju ke Sungai Reteh dan Sungai Enggang Marem Tanjung Labuh terjun ke laut nan mendidih menempuh ombak nan berdebur merapat ke Pulau nan tigo sebelah laut Pulau Berhalo naik ke sekatak Air Hitam menuju ke Bukit Seguntang – guntang mendaki bukit tuo lepas sungai Bayung Lincir laju ke hulu Sungai Singkut di kurung bergandeng bukit tigo mendaki ke serintik hujan panas meniti Bukit Barisan turun ke Renah Sungai Buntal menuju ke Sungai Air Dikit menerpa ke Hulu sungai Ketaun mendaki bukit malin dewa laju ke sungai Ipuh mendaki Bukit Sitinjau Laut, sayup – sayup laut lepas menuju gunung berapi di situ tegak Gunung Kerinci menepat ke Muaro Bento menempuh Bukit Kaco meniti Pematang Lesung terus menuju Batu Anggit dan Batu Kangkung, Teratak Tanjung Pisang, Siangkak – Siangkang Hilir pulo ke durian di takuk rajo di situ mulai bejalan balik pulo ketempat lamo bejalan meniti batas. Itulah batas yang kini menjadi Wilayah Provinsi Jambi sebagaimana dimaksud UU Nomor 61 Tahun 1958.

http://www.jambiprov.go.id

Sejarah Lahirnya Kabupaten Merangin

Berdasarkan Keputusan Sidang Komite Nasional Indonesia (K.N.I) Sumatera di Bukit Tinggi pada tahun 1946 ditetapkan bahwa Pulau Sumatera dibagi menjadi tiga sub Propinsi, yaitu : Sub Propinsi Sumatera Utara, Sub Propinsi Sumatera Tengah, Sub Propinsi Sumatera Selatan. Kemudian dengan UU Nomor 10 tahun 1946 sub propinsi tersebut ditetapkan menjadi propinsi, dimana daerah Kresidenan Jambi yang terdiri dari Kabupaten Batang Hari, dan kabupaten Merangin tergabung dalam Propinsi Sumatera Tengah. Dengan Undang-Undang Darurat Nomor 19 tahun 1957 yang kemudian diubah menjadi Undang-Undang Nomor 18 tahun 1958, dibentuklah Propinsi Daerah Tingkat I Jambi yang terdiri dari : – Kabupaten Batang Hari – Kabupaten Merangin – Kabupaten Kerinci Dalam perjalanan sejarah, dengan dibentuknya Propinsi Daerah Tingkat I Jambi, yang sekaligus juga dibentuknya Kabupaten Merangin (wilayahnya saat ini adalah Kabupaten Merangin, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Bungo Tebo ) yang beribukota di Bangko.

Kemudian ibukota Kabupaten Merangin dipindahkan ke Muara Bungo yang diputuskan melalui sidang DPRD. Selanjutnya, dengan adanya gerakan PRRI tahun 1958 Kantor Bupati Merangin di bakar dan dibangun kembali pada tahun 1965 sebagai persiapan Kantor Bupati Sarolangun Bangko. Setelah berdirinya Kabupaten Sarolangun Bangko melalui UU No. 7 tahun 1965, maka pusat pemerintahan ditempatkan di Bangko dan juga menempati bangunan tersebut. Setelah itu pindah ke Kantor yang baru di jalan Jendral Sudirman Km 2, sedangkan kantor lama menjadi Kantor Dinas Pendapatan Daerah Tingkat II.

Dengan adanya pemekaran wilayah sesuai dengan UU No. 54 tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Merangin, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Tebo dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, maka wilayah Kabupaten Sarolangun Bangko dimekarkan menjadi dua yaitu Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin. Kabupaten Sarolangun beribukota di Sarolangun dan Kabupaten Merangin beribukota di Bangko. Dasar pembentukan wilayah Kabupaten Merangin adalah Undang-undang Nomor 54 tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Tebo, Kabupaten Muara Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur (LN tahun 1999 Nomor 182, TLN Nomor 39030). Kabupaten Merangin merupakan Pengembangan dari Kabupaten Sarolangun Bangko dan hari jadinya tanggal 5 Agustus 1965.

sumber : wikipedia

Jumat, 05 Februari 2010

Berita-Berita

Desa Muara Panco Musim Panen Besar Buah Durian
Oleh : Mohd Khalid, S.th.i (alip Vancho) | 12-Nov-2009, 02:19:47 WIB

KabarIndonesia - Ketika tiba musim durian Suasana di kebun durian rakyat di Desa Muara Panco Barat, Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin Provinsi Jambi, Selengkapnya>>

Menteri Pertanian Serahkan Sertifikat Nasional Duku Muaro Panco
Senin, 14 Desember 2009 01:37

BANGKO – Warga Desa Muaro Panco Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin, Jambi, ketiban rezeki. Musim buah duku tahun ini sangat banyak. Bertepatan dengan musim duku, menteri pertanian (mentan) memberi sertifikat nasional terhadap duku Muaro Panco. Prosesi penyerahan sertifikat nasional duku Muaro Panco digelar di Muaro Panco, Senin (14/12). Selengkapnya>>

Kegiatan Pelayanan Kesehatan





Pelayanan Puskesmas Renah Pembarap bukan saja dilaksanakan di Rumah Sakit, tetapi sampai terjun ke desa desa dalam kecamatan Renah Pembarap buktinya di Desa Muara Panco Barat dilaksanakan Pemeriksaan Gratis Penyakit Malaria

Selasa, 02 Februari 2010

Kegiatan Gotong Royong Jum'at Bersih


Selasa, 15 Desember 2009

Panen Perdana Duku Muara Panco






Panen Perdana Duku Muara Panco oleh Bapak Bupati Merangin dan penyerahan Sertifikat Varietas Unggul Nasional oleh Bapak Bupati Merangin

Kamis, 15 Oktober 2009

Pengurus Karang Taruna

Pengurus Karang Taruna Panco Batuah Desa Muara Panco Barat
Kecamatan Renah Pembarap periode 2008/2011

Sabtu, 13 Juni 2009

Pemberian Gelar Adat

Pemberian Gelar Adat kepada Kepala Desa Muara Panco Barat H. Ishak oleh
Bapak Bupati Merangin
Drs. H. Nalim, MM

Jumat, 12 Juni 2009

Berita


Baru Dapat Sertifikasi Prioritas Unggul Nasional, Duku Muaropanco Malah di Serang Hama
Oleh : Mohd Khalid 27-Mei-2009, 04:29:29 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - BANGKO JAMBI. Para petani duku di Desa Muaropanco Barat Kabupaten Merangin Jambi dan sekitarnya di Renah Pembarab Kabupaten Merangin akhir-akhir mengeluh. Pasalnya, mereka yang baru mendapat sertifikasi nasional, tapi tanaman duku mereka malah diserang hama. Bahkan sudah puluhan batang duku milik warga yang mati dan batangnya diserang penggerek batang. Padahal baru saja 2009 ini, Duku Muaropanco yang manis dan harum mendapat Sertifikasi Prioritas Unggul dari menteri Pertanian RI.

''Petani duku mengeluhkan banyaknya batang duku mereka yang mati,'' kata Alip Vancho, Ketua Karang Taruna Muaropanco kepada iKabar Indonesia, di Bangko.Menurut dia, puluhan batang duku diserang hama penyakit dan mati tersebut belum diketahui secara pasti penyebabnya Apalagi petugas dari Dinas Pertanian Kabupaten Merangin sama sekali belum turun ke lokasi. 'Kemungkinan dipicu adanya ulat penggerek batang. Buktinya, batang duku, baik yang usia ratusan tahun dan yang masih muda sudah banyak yang rusak batangnya, karena dimakan ulat,'' tutur warga lainnya.
Sedangkan Ketua Karang Taruna desa Muara Panco Barat sudah melayangkan surat resmi kepada Dinas Pertanian Kabupaten Merangin, soal adanya serangan hama terhadap batang duku akhir-akhir ini, tapi belum ada juga petugas yang turun untuk melihat dan mengobatinya. ''Sepertinya petani hanya bisa pasrah, menerima cobaan ini,” katanya.
Tak begitu resahnya warga, lanjutnya, lantaran saat sekarang ini tidak ada duku yang berbuah ataupun berbunga. Tapi jika sedang berbunga atau berbuah, lalu diserang hama, maka sudah banyak warga yang panik. Apalagi semua masyarakat di Muaropanco dan sekitarnya memiliki pohon duku.
Sementara jumlah batang duku di Muaropanco mencapai 37.900 batang atau sekitar 25.350 batang sudah produksi. “Kalau duku berbuah, sudah banyak dari luar daerah yang langsung membeli duku di Muaropanco ini. Pendapatan petani duku juga meningkat,” kata Alip Vancho.
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:http://kabarindonesia.com/
Selamat Atas Dilantiknya Jamatul Muslin SebagaiKepala Dsa Muara Panco Barat Periode 2012-2018"
Photobucket
Photobucket
Banner PNF
Terimo Kasih Atas Kunjungan Nyo